TITLE : THE NIGHT WE FELL IN LOVE….
CAST : L.JOE
CHUNJI
RICKY
NIEL
Yang lain menyusul
GENDRE: YAOI, AGNST, Romance
RATING : BISA BERUBAH KAPAN AJAH SAYA MAU HAHAHA
AUTHOR : Arfiana Cimagnae Shinee aka admin MJ aka Min Jee
oke sebelumnya author minta maaf karna updetan lama„ kalo ditanya kenapa itu semua karna saya kuliah ambil jurusan informatika, yang mengharuskan saya selalu berkutat dengan software-software dan buat program baru yang bikin saya terpaksa begadang tiap malem demi buat aplikasi baru. Cuma satu kalimat dari saya, SUMPAH YAH BIKIN APLIKASI ITU GAK GAMPANG secara user maunya macem-macem bikin pusing kepala la la la la la~ ~ ~ ~ ~ ~
cukup yah pelampiasan dari author, untuk part yang ini author mau mengakui. Sebenernya dari awal pun bikin udah saya akuin kali yah!! Kalo ff ini tercipta karna terinspirasi dari novel lelaki terindah karya Andrei Aksana yang pernah saya baca, Cuma saya rubah versi L.joe dan Chunji couple. Nah untuk part ini saya mau ambil beberapa adegan yang ada di novel oke…jadi gak usah ngebash saya plagiat yah„, kan dari awal saya udah bilang hehehehehe
sekali lagi ini alurnya banyak yg saya skip, jadi biar lebih ngerti ceritanya bacanya pelan pelan saja 0.o
WARNING DI PART INI AGAK SEDIKIT SEMUT#ngedipin mata ala Chunji
Jadi rate-nya BA alias Bimbingan Anak(?) jadi bagi orang dewasa yg mau membaca ini harus didampingi oleh anak-anak#plakk ajaran sesat author
Masih dalam bentuk YAOI yang gak suka silahkan pergi dari muka bumi ini 0.o???
Eh salah maksud saya silahkan pergi dari ff ini„„
Gila ini author satu halaman abis buat ngebacot doang, yasudalah mari kita mulai saja cerita aneh ini… ada pemain baru yang saya masukin kali ini want to know siapa dia? mari kita langsung saja mendengarkan dongeng dari author…
Enjoy the read
Author pun membuka buku tebal yang kusam berwana cokelat yang ada ditangannya. Terlihat sedikit berdebu dan para readers pun duduk rapih didepan author dan mulailah cerita ini
******************
Tak terasa lagi panas menyengat. Chunji merasa kesejukan yang meresap kedalam tubuhnya. Saat L.joe melihat kondisinya meredup. Ia berikan tatapan mata yang layu pada L.Joe yang kini menahan kedua bahunya. Sampai seorang penumpang turun dihalte bangkit dari kursi. Perlahan L.joe membimbing Chunji untuk duduk dikursi yang kosong itu.
Perhatian itu
Pengorbanan itu
Mendobrak gerbang yang bungkam terkunci rapat selama ini. Mengoyak jaring laba-laba yang pintal dari serat ingkar dan kemunafikan.disanalah penantian berani menampakan wujudnya, menyambut kedatangan sang pujaan yang selama ini kau cari.
Selamat tinggal sepi
Tak perlu kekerasan
Untuk meruntuhkan jeruji hati……
******************
Kegelisahanku berlanjut tak kala menyadari ada sesuatu didalam diriku, kenapa bisa seperti ini?? Aku bingung apa yang harus aku lakukan, bayangkan saja aku merasa gugup dengannya. L.joe lelaki tampan dan gagah yang kini berlibur bersamaku di pulau jeju. Apa yang hatiku ini harapkan dari pria sepertinya, ingat Chunji ada seorang gadis yang sedang menunggumu di seberang sana. Gadis manis itu bahkan tidak pernah keberatan dengan keadaanmu yang seperti ini, dia tulus mencintaimu.
Lagi perih itu menyayat hati, bergelombang perih menafsirkan luka membendung hasrat yang terdalam. Mengikis keinginanku untuk bisa sedikit saja berada disisi orang yang kini bersamaku. Kenapa manusia selalu menjadikan cinta sebagai alasan ketika tersemit sebuah dosa. Kemunafikanlah bagi mereka yang selalu mengatas namakan cinta atas dosa yang mereka buat.
Cinta itu
Rasa itu
Adalah anugerah manusia
Sayungan hati bertabur makna jiwa
************************
Malam menyisakan raut rembulan yang merenung. Awan kelabu meratap disingkirkan kelam, seperti cinta yang mengais harapan.
Dikamarnya yang besar dan mewah, Chunji tak bisa memejamkan matanya. Sekalipun lampu master telah dipadamkan sejak tiga jam yang lalu. Kegelapan selalu merambatkan kegelisahan hatimu yang menyesakkan.
Hanya terlihat lampu kamar mandi yang dibiarkan menyala, dari celah pintunya yang sedikit terbuka. Garis-garis cahanya menerobos masuk kedalam kamar tidur keduanya. Remang – remang, tapi cukup jelas bagi Chunji untuk melihat L.joe yang terbaling lelap disebelahnya.
L.joe tidur pulas dalam keadaan terlentang. Mengenakan pakaian sekadarnya. Kaus ketat yang tipis tanpa lengan , celana boxer yang sempit dan pendek sebatas pangkal paha. Memperlihatkan relief tubuhnya yang terdapat tonjolan otot dan lekukan. Bahkan dalam keadaan tidurpun ia tampak begitu menggetarkan….
Chunji merasa ada yang salah pada dirinya, entah sejak kapan itu dimulai. Ia mulai membolak – balikan tubuhnya dengan gundah. Desah nafasnya tak beraturan. Menahan beban yang telah menjadi gunung dihatinya.
Bergetar jemari Chunji merayap diatas seprai berwarna putih gading itu. satu mili sebelum menyentuh tubuh L.joe, tangang Chunji mengejang. Berhenti sebelum waktunya.
Ingin aku
Tebenam dalam dekapanmu
Mencatat semua masa dan kenangan
Yang hidup dalam debar dadamu
Sekali lagi Chunji mencobanya. Susah payah ia mengangkat lengannya, mengulurkannya melintasi tubuh L.joe. diturunkannya sedikit demi sedikit. Perlahan. Dan gemetar. Bak adegan slow motion dalam cerita difilm – film. Tapi satu mili sebelum memeluk L.joe , Chunji segera menarik tangannya dengan nafas terengah – engah. Satu mili terakhir selalu membuat mundur kembali. Meski bermili – mili sebelumnya telah berhasil ia lalui.
Tolong aku….
Tolong keluarkan aku
Dari pusaran topan hasrat dan gairah
Yang hampir membunuhku ini….
********************
Malam itu
Tubuh Chunji demam, panas tinggi. Ia tampak menggigil dan kesakitan. L.joe sampai kalang kabut melihatnya. Berkali – kali ia menempelkan tangannya kedahi dan leher Chunji.
“kau kenapa Chunji?” Tanya L.joe panic. Ia hilir mudik dikamar hotel.
Tak kelak L.joe merasa sedikit bersalah itu karna tadi pagi ia memaksa Chunji untuk ikut dengannya untuk jogging mengelilingi sekitar pantai, hingga Chunji kelelahan dan tak sanggup lagi mengejar dirinya.
“kepalamu harus dikompres…”
L.joe membuka lemari es yang berada didalam kamar mereka. Tapi tidak ada es batu disana. Ia beralih ke meja nakas yang berada disamping tempat tidur mengangkat gagang telepon dengan bingung.
“aku panggilkan dokter” tapi ia meletakkan kembali gagang telepon tersebut karna dalam benaknya terlintas jalan keluar yang lebih baik.
“atau kita pergi kerumah sakit terdekat sekarang…”
‘tidak usah L.joe’ tulis Chunji pada note kecilnya dan memberikannya kepada L.joe. sergah Chunji lemah menggapai L.joe untuk mendekat.
‘ini sudah biasa…’
“apa sudah biasa kau bilang?” pekik L.joe terpenjat.
“dengarkan aku, kau itu demam Chunji. Sebentar lagi kau bisa kejang – kejang dan tak sadarkan diri!! Andai Ricky disini, aku pasti tahu apa yang harus aku lakukan sekarang”
Chunji menunjuk sudut kamar mereka. Dengan linglung L.joe berjalan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Chunji disebelah sofa, didekat lemari pakaian. Disana terdapat koper berwarna abu milik Chunji. L.joe sedikit bingung dengan maksud dari Chunji, ia sedang sakit sekarang lalu untuk apa ia menunjukkan kopernya?
“kopermu???”Tanya L.joe memastikan
Chunji yang terbaring hanya mengangguk lemah menatap L.joe. Dengan segera L.joe membuka koper milik Chunji. Ia melihat ada kotak medis yang ternyata Chunji bawa dalam kopernya. Membuka kotak itu dengan hati-hati.
Dan….gerakannya mengejang. Terperangah melihat isinya.
Jarum-jarum suntik
Tabung-tabung kecil berisi cairan
Pil-pil obat
L.joe tertegun dengan hati bergetar. Biasanya ia hanya melihat alat-alat seperti ini diruang praktik dokter. Di klinik, di rumah sakit… seperti terbang melayang ia membawa kotak medis itu menuju ranjang Chunji.
“apa….apa semua ini Chunji…??” gemetar L.joe bertanya padanya. Setelah otaknya tak mampu lagi menemukan logika.
“apa yang terjadi padamu??”
Dengan sisa tenaganya , Chunji membuka segel plastic jarum suntik yang baru. Menancapkan jarum itu ke tabung kecil berisi cairan obat. Jarum itu menghisap seluru isinya. Perlahan ia meraih tangan L.joe, menyerahkan jarum suntik itu kepadanya sambil mengisaratkan pada L.joe untuk menyuntik dirinya.
L.joe kini dapat menangkap maksud dari Chunji, ia sedikit takut jujur saja ia belum pernah melakukan itu kepada orang lain.
“aku tidak bisa, aku belum pernah melakukannya”jawab L.joe
Lagi – lagi perlahan Chunji meraih note kecilnya dan menuliskan sesuatu disana
‘aku mohon tolong aku L.joe’
L.joe terpaku diam menatap Chunji
‘aku mohon, hanya ini yang bisa menolongku’
Chunji menunjukan bagian dilengannya, lalu membimbing tangan L.joe untuk memegangnya. L.joe mengirimkan penolakan dari sudut matanya. Tapi sekali lagi Chunji mengangguk perlahan untuk meyakinkan.
L.joe harus bertempur dengan mengalahkan rasa bimbang di dalam dirinya. Kini tangannya bergetar hebat menyuntikan obat itu kedalam tubuh Chunji.
Setetes demi setetes
Seperti gerimis yang membasahi tanah sekarat
Seperti embun yang membebaskan rumput dahaga.
Chunji memejamkan kedua matanya kuat, merasakan rasa sakit yang harus ia tahan. Obat itu menyatu dengan aliran darahnya merasuk tubuhnya yang lemah.
Seperti cintamu yang mengalir
Disetiap sel tubuhku
Menjadi napas
Dan denyut nadiku
Membuatku mati jika tak kucintai….
Chunji terkulai lemah tak berdaya, seperti tangkai muda yang merunduk layu. Kering sebelum berbunga. Jarum suntik ditangan L.joe terlepas dan jatuh kelantai. Ia tidak perduli, hanya chunji yang menyita perhatiannya. Gugup bercampur risau ia meraih kepala Chunji ke dalam dekapan hangatnya.
“mian, aku lupa dengan perkataan Ricky saat dialun – alun kalau kondisimu lemah, aku tidak menyangka penyakitmu separah itu”bisiknya sedih terselip penyesalan dari nada bicaranya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, L.joe memeluk seorang lelaki. Ia merasakan sensasi aneh menjalari dadanya.
Ganjil
Tapi nikmat
*******************
@Seoul T.O.P Media building
“CUKUP !!!”tanpa sadara Niel memekik gemetar, tubuhnya panas dingin
“aku tidak mau mendengar kelanjutan ceritamu, aku tidak mungkin menerbitkan cerita seperti ini…”
L.joe mengalihkan pandangan dari macbooknya, menatap namja yang duduk dihadapannya sebagai orang yang ia ajak berkerjasama.
“wae?? Kau bilang akan menerbitkannya, lalu apa yang membuatmu merubah perjanjian kita sejak awal”alisnya berkerut merasa seperti dibohongi oleh lawan bicaranya ini.
Pandangan L.joe pada Niel membuatnya tidak nyaman. Benar ia lupa ia sendiri yang berjanji pada L.joe untuk bisa menerbitkan ceritanya menjadi suatu karya“baiklah aku sudah berjanji, tapi aku mohon hapus adengan itu”
“apa?? Jadi kau ingin menyembunyikan kenyataan begitu Niel??”
“tapi L.joe sulit bagiku untuk hal ini”lanjutnya lagi
“itu karna selama kau mendengar ceritaku, kau melihatnya dari sudut dirimu sendiri. Cobalah untuk masuk dalam cerita, hingga kau bisa merasakan sendiri perasaanku terhadap dirinya”
“mengertilah aku sedikit Niel”desah L.joe menghela nafasnya tertahan
“mengapa? Tapi untuk apa?”Tanya Niel ragu
Tatapan mata Niel bertemu dengan L.joe terkurung danterjebak didalamnya
Pasung aku
Dalam relung pikiranmu
Melihat dengan matamu
Berkata dengan mulutmu
Lebur aku
kedalam keseluruhanmu
Memahamimu tanpa melesat
Hingga koma dan titik
***********************
PERMATA
yang mudah pecah. Seperti itulah L.joe menjaga Chunji selama ini. Semenjak kejadian malam itu. hari – hari berikutnya menjadi tenun benang tempat memintal perasaan.
L.joe seperti benteng yang kokoh, memberikan perlindungan bagi Chunji. Menepis semua mara bahaya yang datang mendekat padanya. Merangkul pundak Chunji ketika hendak menyebrang jalan. Mengajak Chunji duduk dan beristirahat setiap kali Chunji merasa kelelahan. Mengulurkan sapu tangannya ketika Chunji berkeringat.
Chunji meringkuk aman didalam benteng yang diciptakan L.joe. menggantungkan seluruh hidupnya kepada sang pahlawannya.
Mereka menjelajahi objek-objek wisata yang ada dikota jeju, seperti sepasang burung merpati yang saling terikat. Tak pernah terpisahkan. Chunji melekat rapuh disisi L.joe yang perkasa.
Waktu seolah tak pernha cukup lagi bagi keduanya. Seandainya waktu berjalan ditempat. Matahari tak perlu tersungkir disepak senja.
Tapi setiap awal selalu harus ada berahkir. Aktivitas sepanjang hari harus selalu kembali terdampar ditempat tidur. Tunduk pada siklus malam, meski semangat masih menyala.
Naik keperaduan dengan mata yang masih terjaga saat yang paling menyiksa.berbaring diranjang tanpa suara kesunyian menjadi lagu sentimental dan menggerogoti kalbu.
Dan malam yang padam,
Menyulut gairah dihati yang remuk redam
Semua berawal dari tatapan. L.joe menoleh menghadap Chunji yang tergolek disisinya. Hanya ingin memastikan bahwa penyakitnya tidak kambuh lagi.
Saat itupun Chunji sedang menatap L.joe . pertemuan dua pasang mata. Pertautan dua hati, tidak disengaja. Tapi diinginkan terjadi.
Belum pernah L.joe melihat mata seindah itu. mata yang berpendar karena kilauan cinta. L.joe terpesona dan terhanyut didalamnya. Membiarkan dirinya terseret gelombang entah dibawa kemana.
Tatapan mendorong naluri untuk menyentuh. Chunji mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah L.joe. Perlahan, tipis, lembut. Menunjukan betapa ia memuja lelaki di hadapannya ini. Betapa ia tergila – gila padanya.
L.joe membiarkan kemanapun jari Chunji beranjak pergi padanya. Menelusuri wajahnya, merayap ketelinganya, turun kelehernya, membelai lengannya, meremas dadanya……Seluruh bulu kuduk L.joe meremang. Ia mendesah mempelajari kenikmatan yang tak dikenalinya.
L.joe termangu seperti pengembara yang tersesat. Hanya ada dua pilihan, berjalan terus, atau berhenti dan mati dibakar gurun tandus. Dua tawaran yang sama-sama tidak memberikan harapan pasti.
L.joe pun memilih yang pertama. Meski belum tentu akan berhasil menemukan mata air terdekat, namun ia yakin sekalli bahwa keindahan yang ia lihat dihadapannya ini adalah bukan sekedar fatamorgana. Sekarang ia semakin mengerti mengapa hatinya berdesir saat pertama kali melihat Chunji. Wajahnya begitu jelita, kulitnya bersinar seperti mutiara.
Chunji adalah namja terindah yang pernah ia temui. Kecantikan seorang perempuan yang terjebak dalam tubuh lelaki Chunji.
L.joe meresapi seluruh getaran yang ditimbulkan oleh sentuhan Chunji. Entah sejak kapan tubuhnya sudah tidak terlindung sehelai benang lagi. Gerakan Chunji demikian lembut dan halus. Seperti seorang perempuan yang mengabdi dengan tulus dan rela pada orang yang ia puja.
Belum pernah L.joe merasa dipuja dan disanjung seperti ini. Chunji melambungkan L.joe ketempat yang sama sekali belum pernah disinggahinya.
Inikah nirwana itu??
Surga tanpa batas
Yang selalu pujangga katakan
Disetiap puisi dan sajak
Jemari Chunji menjadi kuas yang menggoreskan warna-warna cemerlang diatas kanvas. Lidah Chunji adalah gelombang pasang yang melumat pantai. Chunji menelusuri sekujur tubuh L.joe yang perkasa tanpa terlewat sedikitpun. Menghisap habis segenap sari madu tubuh seorang lelaki jantan tanpa tersisa. Mengecap keringatnya, menyesap ototnya.
Menghirup aroma dari tubuhnya.
Chunji menandai setiap pori dan bulu dikulit L.joe, mengesahkan dan menjadi hak miliknya.
Dan menyerahkan segalanya seperti tak cukup lagi untuk membuktikan pengorbanan. L.joe balas mencumbu Chunji dengan gelora yang sama hebatnya. Mereka melebur semua yang dimiliki. Sukma dan raga.
Keganasan L.joe bertemu kelembutan Chunji. Seperti topan yang mengamuk yang bertemu tiupan badai. Dahsyat , sekaligus indah. Saling menggulung dan merampas. Saling menerjang dan mencabik.
Hingga ahkirnya mereka sama – sama pecah meledak, seperti gunung api yang menyemburkan laharnya yang panas. Tak ada yang menang atau kalah. Mereka berdua sama-sama terkapar kehabisan nafas. Tapi tak ingin berhenti.
Lahar masih panas menggelegak. Belum semuanya dimuntahkan dari dalam kawah…..
**************
“gamsahamnida ajjushi atas bantuannya, maaf merepotkan pagi-pagi begini. Aku ingin memberikan kejutan kepada kedua hyungku”celotehnya panjang lebar membuka pembicaraan saat berjalan dilorong hotel mewah yang Chunji dan L.joe tempati.
“kau anak yang baik. jadi kenapa liburannya terlambat??”
“itu karna aku sakit kemarin ajjushi. Jadi sekarang aku menyusul mereka. Sekali lagi maaf harus memaksa ajjushi untuk menolongku”mereka berhenti tepat dikamar bernomor 202 tersebut.
“ne, tidak masalah anak manis, pintu kamar ini sudah ajjushi buka dengan kunci cadangan. Kau bisa masuk sekarang”
“sekali lagi terima kasih ajjushi”seru Ricky membungkuk
Suara dorongan pintu terdengar ditelinga L.joe, suara bising tadi ternyata membuatnya terjaga. Mencoba membiasakan pelupuk matanya dengan sinar lampu kamar yang menyala. Sura berisik tadipun sudah tidak ada lagi, matanya ingin menutup kembali hingga
“ HYUNG~ aku datang”teriak Ricky yang ternyata sudah didepan ranjang mereka. Sesaat setelah mengatakan itu Ricky terdiam melihat kondisi kamar kedua hyungnya itu.
Pakaian berserakan di lantai, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Chunji hyungya yang ia sayangi tidur nyenyak dengan kepala yang tertanam didada bidang L.joe. yang lebih membuat matanya terbelalak lebar keduanya bertelanjang dada hanya menggunakan selimut sabatas pinggang mereka.
Ricky lemas cengkraman pada kopernya merenggang hingga terlepas membuat dentingan lantai berbunyi.
Suara jatuhnya benda itu memulihkan pandangan L.joe sepenuhnya. Terpenjat kaget ia tega mendorong kasar kepala
Chunji yang ada didadanya. Secara tidak langsung juga membuat Chunji terbangun.
Hening tidak ada yang berkata sejenak….
Chunji kini telah sadar sepenuhnya, ia kaget melihat dongsaengnya menyaksikan dirinya seperti sekarang.
“Ricky…sejak kapan kau sampai??”Tanya suara serak L.joe memecah keheningan.
Suara Ricky bergetar ia tidak terlalu bodoh untuk hal seperti ini, mungkinkah?
“kalian…. Apa yang kalian lakukan??”
Tebece yeh ane pegel….oke
Yang belom baca part 1 sama part 2 silahkan ubek note ane cos ini tiap part beda judul, tapi abis baca jangan lupa tinggalin jejak oke
buat silent reader tolonglah sesekali kalian hargai karya orang lain dengan memberi sedikit kenang kenangan seperti komentar oke????
